Kontroversi uang Panai yang Menjadi Syarat Meminang Pujaan Hati

[Omar Sahar, lelaki Gowa yang diberitakan memberi uang panai 3 miliar ke calon istrinya Aqilah Nadya (kedua dari kiri). Foto: Instagram/priskaparamita]

Makassar, Sulawesi Selatan terutama di suku Bugis, terdapat sebuah istilah mahar yang terbilang menjadi bahan perbincangan semua kalangan masyarakat.

Uang mahar yang sering dijuluki sebagai uang panai di suku Bugis terbilang sangat tinggi. Hal tersebut menjadikan sebuah kontroversi uang panai setiap ada pihak yang hendak melangsungkan pernikahan.

Uang yang diberikan kepada calon mempelai perempuan sebagai bukti bahwa seorang pria hendak melamar di daerah suku Bugis sudah berlaku sejak zaman dahulu.

Hingga saat ini, adanya uang panai tersebut masih berlaku bagi mereka yang hendak melamar seorang gadis. Meskipun terkadang bagi pria, hal tingginya uang panai menjadi beban tersendiri karena jumlah yang tidak sedikit. Selengkapnya simak ulasannya berikut ini!

Sekilas Mengenai Uang Panai

Adanya uang panai menjadi sebuah simbolik bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan terutama di daerah suku Bugis, Makassar, dan juga Suku Mandar. 

Awal mula adanya uang panai ini sebagai isyarat belanja bagi keluarga perempuan ketika hendak melangsungkan pesta pernikahan. Hal tersebut tentunya membutuhkan kesepakatan kedua belah pihak untuk menentukan berapa jumlah yang disepakati.

Jumlah uang panai yang ada memiliki tolak ukur tersendiri tergantung dari status dan kondisi si perempuan yang hendak dipinangnya. Ketika kedua belah pihak dalam berdiskusi menentukan jumlah uang panai tidak cocok, tentunya acara melamar tidak akan berlangsung. Hal tersebut menjadikan sebuah kontroversi uang panai yang sering terjadi.

Banyak rencana pernikahan yang gagal lantaran adanya uang panai yang terlalu berat dan mengharuskan untuk dipenuhi. Lantaran seorang pria tidak mampu, menjadikan itikad untuk melangsungkan lamaran berhenti lantaran uang panai tersebut.

Tolak Ukur Uang Panai

Ketika seorang pria hendak menikahi gadis suku Bugis, langkah yang harus dilakukan sebelum datang untuk melamarnya yaitu dengan menghitung berapa uang panai yang harus dikeluarkan.

Pasalnya harus mengetahui latar belakang dari si gadis sebagai tolak ukur dari uang panai tersebut. Uang panai menjadikan diterima tidaknya seorang pria yang hendak melamarnya tak heran kontroversi uang panai banyak terjadi. Berikut beberapa tolak ukur dalam menentukan uang panai, seperti halnya:

1. Dilihat Dari Status Keluarganya

Sebelum mematok berapa uang panai yang hendak diberikan, tentu si pria harus mengetahui bagaimana latar belakang keluarga dari si wanita. Bagaimana pekerjaan orang tua, pendidikan dari orang tua dan kepribadian dari keluarganya. Hal tersebut dikarenakan yang menentukan jumlah uang panai juga keluarga ikut berpartisipasi.

2. Tingkat Pendidikan Si Gadis

Setelah dari pihak keluarga telah ditelusuri, saatnya dengan mengetahui bagaimana alatar gadis yang hendak dilamar. Bagaimana tingkat pendidikan menjadikan perbedaan dalam uang panai yang diberikan.

Semakin tinggi pendidikan si gadis, tentu uang panai yang diberikan semakin tinggi. Hal ini menjadikan sebuah kontroversi uang panai terlebih jika uang yang diinginkan terbilang tinggi.

3. Bagaimana Pekerjaan Yang Dilakukan  

Jika gadis yang dilamar merupakan gadis biasa atau tidak memiliki pekerjaan yang sekiranya dipandang wah, tentu hal tersebut bukan sebuah masalah. Namun lain halnya ketika si perempuan telah memiliki pekerjaan yang mapan dan juga berkelas. Hal tersebut menjadikan kontroversi uang panai karena akan sangat tinggi uang panai yang dipatoknya.

4. Dilihat Dari Agamanya

Maksud dari agama disini yaitu ketika seseorang yang hendak dipinang baik itu dirinya maupun orang tuanya telah memiliki gelar haji, hal tersebut akan menjadikan semakin tinggi uang panainya. Terlebih jika kecantikan  yang ada pada si gadis sangat mempesona. Tentu si pria harus siap-siap untuk menyiapkan uang yang lebih.

5. Tingkat Strata Yang Ada

Selain adanya keturunan bangsawan atau tidak, tingkat strata perempuan juga mempengaruhi besarnya uang panai. Seperti halnya ketika orang tuanya merupakan seorang pengusaha maupun memiliki jabatan tertentu. Hal tersebut menjadikan keluarga dari si perempuan sangat disegani oleh masyarakat.

Faktanya banyak sekali kontroversi uang panai yang terjadi sehingga menjadikan gagalnya rencana untuk menikahi si gadis lantaran pihak laki-laki tidak sanggup untuk membayar uang panai yang diberikan kepadanya/. Padahal syarat untuk bisa menikahi si gadis tersebut yaitu harus dengan uang panai.

Persepsi Masyarakat Mengenai Uang Panai

Dengan adanya kontroversi uang panai sebagai syarat bagi si pria ketika hendak melawat pujaannya memang terbilang menggelitik.  Bagaimana tidak, memang pada dasarnya masyarakat di suku Bugis masih mempertahankan adanya suku budaya yang ada.

Dengan adanya istilah uang anai menjadikan ciri khas tersendiri bagi masyarakat yang ada. Banyak sekali persepsi yang muncul akan uang  panai ini, diantaranya:

1. Sebagai Ajang Gengsi

Faktanya tidak hanya satu dua orang saja yang mempertahankan sebuah gengsi ini. banyak dari suku Bugis yang menjadikan uang panai sebagai ajang gengsi karena dengan menolak ukur uang yang harus diberikan si pria. Tentunya gengsi ini biasanya dikarenakan lingkungan sekitar serta tawaran uang panai yang pernah sebelumnya ditawarkan.

2. Ajang Untuk Naik Kelas Dalam Masyarakat

Ketika seorang perempuan hendak dilamar laki-laki bukan tidak mungkin untuk memberikan syarat dengan uang panai yang terbilang tinggi. Bisa jadi dari pihak perempuan hendak menaikkan status sosialnya dalam masyarakat. Tak heran jika hal tersebut menjadi kontroversi uang panai di Makassar.

3. Memenuhi Kebutuhan Si Perempuan

Uang panai pada dasarnya bertujuan sebagai uang belanja bagi perempuan. Dengan memberikan persyaratan uang panai yang tinggi, tentunya besar kemungkinan kebutuhan si perempuan akan terpenuhi. Hal ini menjadikan keluarga tidak perlu memikirkan bagaimana keadaan dari si gadis setelah menikah.

4. Hubungan Baik Antar Kerabat

Dengan memberikan uang panai yang rendah, hal tersebut menjadi sebuah pemikiran merendahkan dari keluarga si perempuan. Jika hal tersebut terjadi tentu hubungan yang ada akan semakin renggang dan tidak berjalan baik. namun lain halnya ketika memberikan uang panai dalam jumlah yang tinggi, biasanya hubungan akan tetap baik dan harmonis.

5. Sebagai Salah Satu Budaya

Manusia memang terjaring dalam sosial budaya. Hal ini menjadikan sebuah aturan yang memang harus diikuti dan dijalankan. Ketika kedua belah pihak masih memegang erat budaya, tentu tetap akan menggunakan aturan sebagai salah satu nilai dalam mempertahankan budaya yang ada. Hal ini tentunya dikarenakan telah turun temurun dilakukan nenek moyang mereka.

6. Praktik Budaya Siri

Ada persepsi masyarakat yang menjadikan kontroversi uang panai ini sebagai praktik budaya siri. Hal tersebut dikarenakan terdapat seorang pria yang tidak mampu untuk membayar uang panai kemudian bekerja merantau hingga terkumpul banyak uang. Setelah uangnya terkumpul, si pria kembali dan melamar perempuan yang dulu hendak dipinangnya.

Baca juga: Yuk Kenali eWallet, Layanan Penyedia Serta Keuntunganya

Uang panai pada dasarnya dijadikan sebuah sarana untuk memenuhi kebutuhan dan juga kepuasan pribadi sehingga tak heran banyak uang panai yang terbilang tinggi.

Namun seiring berjalannya waktu, kontroversi uang panai ini semakin berkurang dikarenakan pihak si wanita memilih untuk menurunkan uang panai agar bisa melangsungkan pernikahan segera.

Dibalik itu semua, tetap masih banyak laki-laki yang kehilangan harga diri dikarenakan niat untuk melamar si gadis ditolak lantaran uang panai yang tidak disepakati kedua belah pihak.

You May Also Like

About the Author: Surya Setiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *